1. Apakah pernah salah paham terhadap murid?
Ya, saya pernah mengalami situasi di mana saya salah memahami seorang murid yang sering tidak menyelesaikan tugas tepat waktu. Pada saat itu, saya cenderung langsung menyimpulkan bahwa murid tersebut kurang memiliki motivasi belajar dan bahkan menganggapnya malas. Ia terlihat tidak fokus saat pembelajaran berlangsung, jarang mengumpulkan tugas, dan kurang aktif dalam kegiatan kelas. Penilaian saya saat itu lebih didasarkan pada perilaku yang tampak di permukaan tanpa mencoba memahami latar belakang yang sebenarnya. Saya menyadari bahwa sebagai guru, terkadang kita mudah memberikan label tanpa melakukan pengamatan yang lebih mendalam. Hal ini menjadi refleksi penting bagi saya bahwa penilaian yang terburu-buru dapat berdampak pada cara kita memperlakukan murid dalam proses pembelajaran.
2. Apakah pernah mencoba mencari tahu lebih jauh?
Seiring berjalannya waktu, saya mulai merefleksikan pendekatan yang saya lakukan. Saya kemudian mencoba mendekati murid tersebut secara lebih personal dan mencari tahu kondisi yang ia hadapi di luar kelas. Saya mengajaknya berbicara secara santai agar ia merasa nyaman. Dari percakapan tersebut, saya mengetahui bahwa murid tersebut memiliki tanggung jawab membantu orang tua di rumah sehingga waktu belajarnya sangat terbatas. Selain itu, ia juga mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran dan merasa kurang percaya diri untuk bertanya di kelas karena takut dianggap tidak mampu oleh teman-temannya.
Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bahwa tidak semua murid yang terlihat tidak mengerjakan tugas disebabkan oleh kemalasan. Ada banyak faktor eksternal dan internal yang memengaruhi proses belajar mereka. Setelah memahami hal tersebut, saya mulai mengubah pendekatan dengan lebih mengedepankan empati, memberikan bimbingan tambahan, serta menciptakan suasana kelas yang lebih suportif. Saya juga berusaha untuk tidak terburu-buru memberi label, melainkan lebih fokus pada upaya memahami kebutuhan murid secara menyeluruh agar pembelajaran menjadi lebih inklusif dan bermakna.
*Penulis: Edwin Kurniadi*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar